loading...
» » » Kartu Lebaran Selamat Idul Fitri, Riwayatmu Kini

loading...

Kartu lebaran
Kartu Lebaran Selamat Idul Fitri, Riwayatmu Kini - Hari mulai sore ketika Asfian Ayu Primana tiba di Kantor Pos Besar Kota Yogyakarta, Jumat 2 Agustus 2013. Sesaat setelah melewati pintu masuk gedung berarsitektur kolonial itu, matanya langsung tertuju pada tiga pembuat kartu lebaran. Sejenak menanyakan harga pada salah satu pedagang, dua lembar kartu lebaran segera berpindah ke tangannya. "Kartu lebaran lebih berkesan," kata perempuan 19 tahun itu pada media onlineTempo.

Pesatnya perkembangan teknologi informasi mengubah cara orang berkomunikasi. Berkirim kabar untuk teman, kerabat, hingga jaringan bisnis dengan mudah dilakukan melalui internet dan telepon genggam. Termasuk berkirim kartu ucapan Idul Fitri menjelang lebaran, kini mulai banyak ditinggalkan orang.

Tapi, bagi Ayu, ada yang tak didapat dari mengirim ucapan secara elektronik. Yakni pengalaman dan kenangannya. "Ini," kata dia, memperlihatkan dua kartu lebaran yang dibelinya, "Bisa disimpan dan didokumentasikan."

Sekelompok alumni dan siswa Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta (kini SMK Negeri 3 Bantul), membuat dan menjual kartu lebaran di kantor pos Yogyakarta, sejak Rabu 31 Juli pekan lalu. Berbeda dengan kebanyakan kartu lebaran hasil cetakan mesin dan sablon, kartu yang mereka tawarkan dibuat secara manual. Berbekal spidol, pensil warna, cat akrilik, serta kertas linen dan karton, mereka membuat langsung kartu lebaran.

Kartu lebaran mereka tak sekadar berisi kalimat standar "Selamat Hari Raya Idul Fitri" dengan tambahan gambar masjid dan ketupat. Namun, beberapa kartu ada yang ditambahkan dengan kalimat hasil kreasi pembuatnya. Semisal sebuah pantun berbahasa Jawa. Sayur ketupat duduhe santen, menawa lepat nyuwun ngapunten. Ukuran kartu pun bervariasi. Dari yang kecil, 15 X 21 sentimeter, lebih kecil dari ukuran kartu pos kebanyakan, hingga yang besar, seukuran 20 x 27 sentimeter.

Ibnu Prastowo, salah satu di antara ketiga pedagang itu, mengatakan harga kartu lebaran yang mereka buat beragam. Dari yang terkecil Rp 3 ribu hingga Rp 5 ribu per buah. "Sesuai ukuran dan bentuknya," kata dia. Bahkan, sambung lulusan SMSR tahun 2010 itu, pembeli bisa memesan kartu khusus bergambar potret diri dengan ukuran tertentu. "Kalau request, harganya bisa sampai Rp 50 ribu."

Berjualan kartu lebaran di kantor pos, menurut dia, bukan pengalaman pertama kali bagi komunitas alumni dan siswa SMSR Yogyakarta. Tahun 2011 lalu, Munggur Art Commonity, demikian nama komunitas mereka, pernah melakukan kegiatan serupa. Setelah absen pada 2012, tahun ini Kantor Pos Yogyakarta kembali mengundang mereka untuk berdagang kartu lebaran.

Saban hari, mereka mulai membuka "lapak" sejak pagi hingga sore hari. Hasilnya terbilang lumayan. Di hari pertama membuka lapak, mereka bisa mengumpulkan uang sebesar Rp 100 ribu. Pada hari kedua, hasilnya berlipat menjadi Rp 270 ribu. "Hari ini dapat Rp 70 ribu," kata dia.

Rencananya, sambung dia, mereka akan menggelar dagangan hingga dua hari sebelum lebaran. Uang yang didapat akan dibagi pada pembuat kartu dan masuk ke kas komunitas. Adapun untuk menempati ruangan, PT. Kantor Pos tak sepeser pun memungut biaya sewa.

Yadika Gandrig Harison, seorang alumni SMSR tahun 2012 yang turut berjualan kartu lebaran di tempat itu, mengatakan kegiatan ini sebenarnya bukan sekadar mencari keuntungan. Tapi sekaligus mempertahankan tradisi berkirim kartu lebaran yang sekarang mulai ditinggalkan banyak orang. "Bukan persoalan uang semata," kata lelaki 19 tahun asal Wonosari, Gunungkidul itu.

Kepala Kantor Pos Besar Yogyakarta Felix Firmano mengatakan sejak era booming telepon genggam tahun 1998an, kebiasan berkirim kartu lebaran melalui Pos memang terus berkurang. Namun ia tetap optimis, kebiasaan itu tetap bertahan karena ada nilai tak tergantikan dengan pesan singkat telepon seluler atau bahkan surat elektronik.

Lihat saja, kata dia, masih ada orang atau lembaga pemerintah atau swasta yang memilih mengirimkan kartu lebaran melalui pos. Termasuk PT. Pos sendiri, yang masih mengandalkan kartu untuk mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri bagi koleganya. "Kalau bukan kami (yang mempertahankan) siapa lagi," kata dia.(sumber)

loading...
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama