loading...
» » » Aksi Jokowi - Ahok di Tanah Abang

loading...

Jokowi - Ahok
Suka atau tidak, pemutusan rantai hubungan pedagang kaki lima (PKL) dengan para preman adalah kunci penting dalam keberhasilan kerja Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Tanah Abang.

Jokowi - Ahok memisahkan pekerjaannya dalam dua sisi


Di satu sisi ia melawan premanisme yang merusak tata ruang kota. Kedua, ia membantu PKL yang benar-benar berniat bekerja untuk dimudahkan akses permodalan dan larisnya dagangan.

Setelah Ahok berhasil memisahkan ini, Jokowi kemudian masuk ke Pasar Blok G Tanah Abang dan menyatakan kemenangannya dengan melihat ada lebih dari 500 pendaftar yang ingin masuk ke PKL. Antusias PKL ini menandakan bahwa mereka sudah lepas dari jerat para preman yang memungut pungli.

Jokowi dan Ahok tidak gampang putus asa

 Jokowi dan Ahok tidak putus asa dalam menghadapi penolakan para pedagang kaki lima (PKL) Tanah Abang untuk masuk ke Blok G yang dikenal sebagai "blok mati". Kini, petugas pendaftar PKL untuk kios dalam Blok G malah kewalahan melayani antusiasme para pedagang.

Pendaftaran dibuka pada 16 Juli 2013 lalu. Hingga pekan kedua ini, jumlah pedagang yang siap meramaikan Blok G Tanah Abang sudah lebih dari 500 orang. "Sebanyak 477 yang dilaporkan kemarin," kata Wali Kota Jakarta Pusat Saefullah, yang turut memantau jalannya pendaftaran.

Pendaftaran ditutup Jumat, 2 Agustus 2013. Sesuai dengan arahan Jokowi, jika pendaftar melebihi kapasitas daya tampung, yakni 1.070 kios, maka yang diproritaskan ialah pedagang ber-KTP DKI.

Guna mendukung program penertiban tersebut, Wali Kota Jakarta Pusat Saefullah, meminta pihak terkait untuk menyukseskan penertiban. Selain pedagang, rumah jagal yang masih beroperasi, juga akan ditertibkan.

Penyelesaian PKL di Tanah Abang dalam waktu cepat merupakan fakta kerja paling menarik yang dilakukan Jokowi, fakta kerja ini kelihatannya sederhana tapi ingat persoalan PKL Tanah Abang bukanlah persoalan sepele.

Seusai masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin di 1977, pasar yang tadinya direnovasi sebagai Pasar Modern itu lalu jadi pasar paling semrawut di DKI Jakarta. Baru di masa Jokowi inilah keteraturan sirkulasi ruang Tanah Abang diperlancar sehingga Pasar Tanah Abang diharapkan tidak sekumuh saat ini. Berarti sudah 36 tahun terjadi pembiaran atas ruwetnya lalu lintas dan kondisi Pasar Tanah Abang.

Jokowi juga menawarkan sebuah solusi PKL yakni diberikan subsidi 6 bulan atas sewa tempat ini. Sungguh, suka atau tidak, Jokowi-Ahok bekerja cerdas dan cermat mengatasi keruwetan Tanah Abang itu dengan sigap, namun tenang. Dengan kesabaran dan kesahajaaan serta mental pelayan bagi rakyat, urusan Tanah Abang oleh Jokowi- Ahok bisa dibereskan. Tanpa semu pencitraan (sumber)

loading...
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama