loading...
» » Pasien Meninggal karena Ruangan Penuh

loading...

Seorang karyawati perusahaan konveksi bernama Dewi Alfiyanti (22) meninggal di RS Budi Asih, Jakarta Timur, Selasa (19/3/2013). Pasien yang menderita kerusakan lever sejak dua minggu lalu itu meninggal setelah gagal mendapat perawatan intensif.

Menurut Firman Mudiana Fajar (31), kakak Dewi, keluarga telah membawa anak ke-6 dari 7 bersaudara tersebut ke RS Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, pada Kamis (7/3/2013) malam. Saat itu korban langsung mendapat penanganan di unit gawat darurat. Setelah itu, Dewi dinyatakan harus segera masuk ke ruang intensive care unit (ICU), tetapi ruang ICU di rumah sakit tersebut ternyata penuh.

"Kami lalu nego, minta Dewi dirawat di kamar kelas III, tapi ternyata penuh juga," kata Fajar saat ditemui di rumah duka, Jalan Mesjid At Taufiq, Gang Anggur, RT 12/RW 12, Kelurahan Kelapa Dua Wetan, Ciracas, Jakarta Timur, Selasa (19/3/2013).

Karena tak mendapat kamar perawatan, Fajar dan keluarga pasien mencoba mencari rumah sakit lain. Sayangnya, semua rumah sakit yang dikunjungi juga sedang penuh.

Sekembalinya ke RS Haji, keluarga disarankan memindahkan Dewi ke kamar kelas II dengan biaya Rp 4,5 juta. Karena tidak ada biaya dan tak menggunakan layanan Kartu Jakarta Sehat, keluarga pun memilih membawa Dewi pulang dan merawat di rumah dengan bantuan seorang perawat.

Tak dinyana, pada Rabu (13/3/2013), kondisi Dewi kembali lemah hingga tak sadarkan diri. Keesokan harinya, Fajar mencoba mencari rumah sakit yang bisa menangani Dewi dan akhirnya membawa sang adik ke UGD RS Tugu Ibu, Depok. Di sana pun Dewi dinyatakan harus masuk ICU dengan biaya Rp 5,8 juta. Karena keluarga tidak sanggup membayar, Dewi pun dipindahkan ke ruang perawatan kelas II.

"Di sana dia dua hari sempat sadar, makan, dan bicara. Tapi Sabtu paginya mendadak kritis lagi. Setelah ditanyakan ke dokter, dibilangnya sudah harus di ICU lagi," kata Fajar.

Karena keluarga tidak sanggup membayar biaya tersebut, Fajar pun berinisiatif memindahkan Dewi. Menurut Fajar, ia dan keluarga sempat meminta rekomendasi dari RS Tugu Ibu, tetapi tidak diberikan. "Tanggal 17 malam akhirnya dibawa pulang," jelas pria yang berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah swasta ini.

Fajar kemudian bertemu dengan seorang relawan dari organisasi non-profit yang berinisiatif membantu keluarganya dengan membawa ke RS Budi Asih, Cawang, Jakarta Timur. "Sesampai di sana, sempat dinyatakan membaik. Tapi tiba-tiba drop lagi dan menurut dokter ada pembengkakan di bagian hati. Makanya saya heran, kenapa bisa dinyatakan membaik kalau ternyata ada pembengkakan," jelas Fajar.

Di RS Budi Asih, Dewi dijanjikan akan dipindahkan ke ICU. Namun karena ruang ICU tidak tersedia, Dewi akhirnya dirujuk ke RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Namun rujukan tersebut ditolak karena Dewi diharuskan diinfus dengan jarum yang menembus paru-paru. Keluarga khawatir cara tersebut bisa menghentikan detak jantung Dewi jika pasien tidak kuat. Dewi pun tetap dirawat di ruang IGD sampai kondisinya memburuk.

"Tadi pagi tiba-tiba mulutnya keluar darah. Setelah kritis akhirnya meninggal," ujar Fajar.

Kakak kedua Dewi ini menegaskan bahwa sejatinya ia tak menyalahkan siapa pun perihal kematian sang adik. Namun, ia sedikit menyesalkan pernyataan tenaga medis di RS Budi Asih yang dianggap tidak menunjukkan transparansi. "Bagaimana bisa kok dibilang baik-baik saja, lalu tiba-tiba besoknya kondisinya memburuk, lalu dokter bilang kalau ada infeksi di bagian lever," kata Fajar. Setelah dinyatakan meninggal, Dewi pun dibawa ke rumah untuk disemayamkan dan dimakamkan di TPU Cipayung.

Sampai berita ini ditayangkan, belum ada konfirmasi dari rumah sakit yang bersangkutan.

Sumber

loading...
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama