loading...
» » Rp 1,4 Miliar Untuk Perbaikan Toilet di DPR

loading...

Gedung DPR belum berhenti "bersolek diri". Setelah rencana pembangunan gedung baru DPR gagal, kini DPR kembali disoroti dengan sejumlah proyek renovasi dengan anggaran yang tak sedikit. Pada akhir 2012, DPR akan melakukan perbaikan toilet yang memakan biaya Rp 1,4 miliar. Kepala Biro Pemeliharaan Bangunan dan Instalasi Sekretaris Jenderal DPR Erry S Achyar mengatakan, keperluan perbaikan toilet sudah sangat mendesak. Selama ini, kata dia, anggota DPR selalu mengeluhkan toilet yang rusak.

"Kami juga pusing karena keluhan ini selalu ada setiap rapat. Kami sebagai pelayan di sini, ya, mau tidak mau melakukan perbaikan itu karena ini kemauan dari anggota DPR yang juga sudah dibahas di Badan Urusan Rumah Tangga (BURT)," ujar Erry, Selasa (6/11/2012), saat dijumpai di kompleks Parlemen, Senayan.

Erry mengungkapkan, keluhan itu sudah ada sejak awal tahun. BURT kemudian menganggarkan Rp 1,4 miliar untuk proyek ini. Rencananya, ada 197 toilet di Gedung Nusantara I yang akan diperbaiki. Sebanyak 18 toilet di antaranya dalam kondisi rusak parah. Total toilet yang ada di Gedung Nusantara I adalah 220 toilet. Artinya, sebagian besar toilet di gedung ini dikatakan rusak. Gedung Nusantara I terdiri dari ruang Komisi VI, VII, IX, X, dan XI yang terletak di lantai dasar. Sementara di bagian atasnya, fraksi-fraksi menempati ruangan sendiri setiap lantai hingga lantai 23. Menurut Erry, perbaikan toilet paling banyak berada di kantor fraksi. Namun, saat ditanyakan lebih lanjut fraksi mana yang toiletnya rusak paling banyak, Erry enggan menyebutkan.

Salah satu kondisi toilet perempuan yang ditemui di kantor Fraksi PDI-Perjuangan. Kondisinya bersih dan seluruh alatnya berfungsi dengan baik. Rencananya, Sekretariat Jenderal DPR akan melakukan perbaikan toilet yang nilai proyeknya mencapai Rp 1,4 miliar.

"Itu, kan, bukan kami yang merencanakan. Bagian perencanaan yang membuat detailnya dan sudah melakukan kajian investigasi secara profesional," tutur Erry.

Dengan kondisi toilet yang rusak itu, Erry mengaku, anggaran Rp 1,4 miliar adalah hal yang wajar. "Jadi, kalau ditanya anggaran begitu besar, disesuaikan dengan kondisinya. Jumlahnya banyak," kata Erry.

Ia menjelaskan, paling banyak toilet yang rusak karena kebocoran pipa, penggantian plafon, keramik, keran air, dan lampu-lampu yang sudah pecah. Pengerjaan toilet rusak ini ditargetkan selesai dalam waktu 1,5 bulan. Pada akhir 2012, para anggota Dewan bisa menikmati toilet baru ini. Selain perbaikan toilet, Erry mengatakan, pihaknya juga tengah mengerjakan proyek pembangunan pagar pembatas kompleks DPR dengan Taman Ria Senayan.

"Rencananya tingginya akan ditambahkan menjadi sekitar 2,8 meter. Yang sekarang ini terlalu pendek hanya sekitar 0,75 meter, panjangnya 280 meter," ucap Erry.

Rendahnya tinggi pagar tersebut, lanjut Erry, dikeluhkan oleh Pamdal dan Pengamanan Objek Vital Polda Metro Jaya. Selama ini, rendahnya tinggi pagar itu membuat daerah di sekitar halaman DPR yang berbatasan dengan Taman Ria Senayan menjadi rawan.

Sebelumnya, Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) mengkritik tiga proyek pengerjaan di DPR yang proses lelangnya dilakukan akhir tahun ini. Tiga proyek tersebut adalah penggantian pagar batas Gedung DPR dengan Taman Ria Senayan sekitar Rp 1 miliar, proyek renovasi toilet Gedung Nusantara I DPR sekitar Rp 1,4 miliar, serta perbaikan ruang kerja anggota DPR di Gedung Nusantara I DPR dengan nilai proyek sekitar Rp 6,2 miliar.

"Penggantian pagar batas dengan Taman Ria sebesar Rp 1 miliar tidak akan menjadi perhatian publik lantaran jauh dari pemandangan publik, tapi terkesan aneh bila mau diganti saat ini. Pagar pembatas masih ada, tapi kok mau diganti sih? Berarti DPR lagi kelebihan angaran nih. Lebih baik membangun pagar pembatas daripada memberikan anggaran kepada rakyat yang miskin," kata Koordinator Investigasi dan Advokasi Fitra Uchok Sky Khadafi, melalui siaran pers yang diterima wartawan, Minggu (4/11/2012).

Untuk proyek renovasi toilet Gedung Nusantara I, lanjutnya, publik juga akan melihat bahwa pengadaan proyek ini sebagai sesuatu yang tak sewajarnya. Menurut Uchok, tidak masuk akal jika renovasi toilet menelan anggaran hingga Rp 1,4 miliar. Apalagi, menurut dia, proyek ini bernama "renovasi" yang seharusnya lebih murah dari pembangunan toilet baru.

"Masa renovasi sampai miliaran rupiah, memang toilet DPR rusak semua sehingga dibutuhkan anggaran bermiliar-miliar yang mengerus kas negara hanya untuk merenovasi toilet, yang kadang anggota Dewannya ada di tempat, kadang entah ke mana penghuninya," ujarnya.

Proyek renovasi toilet ini pun, menurut Uchok, sempat ditolak masyarakat pada 2011 lalu. Dia mempertanyakan bagaimana mungkin anggota DPR dan Kesekjenan DPR bisa melupakan penolakan masyarakat itu dengan tetap menggelar lelang pengerjaan proyek tersebut. Uchok juga menyinggung penggunaan uang Rp 6,2 miliar untuk perbaikan ruang kerja anggota DPR di Gedung Nusantara I. Dia mengatakan, rakyat tidak butuh ruangan baru anggota DPR, tetapi butuh kejujuran para wakil rakyat untuk membela kepentingan rakyat. (sumber:kompas)

loading...
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama