loading...
» » » 5 Perkataan Ahok yang Menohok Anak Buahnya

loading...

Diberi tugas oleh Jokowi membenahi birokrasi, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) langsung menggebrak sejak hari pertama bertugas di Balai Kota.

Banyak hal yang dikritisinya. Dari cara berpakaian para PNS yang menyembunyikan tanda pengenalnya, hingga pemotongan anggaran sebesar 25 persen terhadap dinas-dinas. Tujuannya untuk penghematan anggaran yang kemudian akan dikembalikan ke APBD DKI Jakarta untuk program-program kesejahteraan rakyat.

Tak seperti Jokowi dengan gaya santunnya yang khas orang Jawa, Ahok dalam beberapa kali rapat dengan jajaran pegawai pemprov mengeluarkan kata-kata yang keras. Dan itu diakuinya, karena Ahok menegaskan hal itu sudah merupakan bagian tugasnya yang digariskan Jokowi.


"Bapak silakan cari kabupaten mana, provinsi mana, kalau nggak suka dengan kami tinggal tanda tangan saja. Yang bisa lakukan silakan ikut, kalau tidak bisa, kami tinggal, kalau bahasa Pak Gubernur, yang bisa ikut naik satu kereta. Halus ya beliau ngomongnya, ya kami tinggal bahasanya. Tapi kalau saya (bahasa) kasarnya. Saya nggak bisa tiru gaya Pak Gubernur, saya orang Sumatera, ya saya begitu cara ngomongnya," kata Ahok saat rapat dengan jajaran Dinas PU DKI Jakarta, Kamis 8 November.

1. Pegawai honorer atau calo?

Saat melakukan kunjungan pertama kali ke gedung D di lingkungan Pemprov DKI Jakarta, 17 Oktober lalu, Ahok mendapati salah seorang pegawai honorer yang mengenakan pakaian bebas, bukan seragam.

"Honorer tidak mesti pakai baju seragam? Nggak dikasih baju ya, nggak apa-apa ngomong ke saya," kata Ahok kepada pegawai tersebut seperti diunggah dalam akun YouTube Pemprov DKI Jakarta.

Salah seorang PNS Biro Tata Pemerintahan Setda Provinsi DKI Jakarta yang bernama Arifin menjawab, jika pegawai honorer memang tidak disediakan baju seragam. Dan hal itu merupakan kebijakan dari kepala biro sebelumnya.

"Nggak, musti kasih seragam, kalau tidak pakai baju PNS, kita musti suruh pakai baju apa kemeja putih, biar seragam misal batik, supaya bisa kita kenalin terus dikasih nama. Jadi kita bisa bedakan, ini calo apa honorer. Saya tidak ingin ada calo bergentayangan di gedung kita," sahut Ahok.

"Kayak tadi, orang ngurus surat sampai naik ke atas itu sudah salah. Kita kan punya pelayanan terpadu. Tidak boleh orang di luar naik ke lantai atas," tegas Ahok.

Mendengar pernyataan Ahok itu, para pegawai di Biro Tata Pemerintahan hanya mengangguk-angguk. "Iya Pak, siap Pak."

2. Tukang ketik

Saat menerima perwakilan buruh di Balai Kota yang menuntut kenaikan upah, Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja (Ahok) Purnama naik pitam begitu mengetahui hasil rapatnya dengan perwakilan buruh tidak diketik. Seorang pegawai muda yang menjadi sasaran kemarahan Ahok hanya menulis notulensi di secarik kertas.

"Kampungan banget itu, pakai BlackBerry, laptop anggarannya miliaran, mana tukang ketiknya itu?" sergah Ahok melihat laptop di depan PNS muda itu masih tertutup, saat rapat segera berakhir, Rabu (24/10).

Karena melihat PNS muda itu hanya sibuk dengan alat tulis dan secarik kertas, Ahok pun semakin emosi.

"Lu orang paling hebat, ada laptop di depan mata, tapi tulis tangan. Cari sekretaris yang bisa ketik sepuluh jari. Saya tidak mau notulensi pakai tangan, kasih dua orang buat (ketik notulensi) gantian," ujar Ahok dengan nada tinggi.

3. Hapus anggaran penulisan pidato

Ahok kaget bukan kepalang ketika mengetahui ada anggaran tahunan sebesar Rp 1,2 miliar untuk penulisan naskah pidato gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta.

"Penulisan naskah gubernur dan wakil gubernur Rp 1,2 miliar ya harus kami coret. Apa-apaan ini," kata Ahok di Balai Kota Jakarta, Senin (30/10).

Ahok mengaku kaget ada anggaran begitu besar hanya untuk penulisan naskah pidato gubernur dan wakil gubernur. Dia akan mengecek dan mengapa bisa muncul anggaran sebesar itu.

4. Satpol PP diganti SPG

Saat melakukan sidak ke bagian biro hukum, Ahok yang bertemu dengan Kepala Bidang Operasional Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta Darwis Silitonga mengingatkan agar Satpol PP tidak boleh galak-galak lagi.

"Satpol PP nggak bisa galak-galak lagi ini. Nggak ada lagi yang namanya galak-galak, nanti kita ganti semua dengan SPG (sales promotion girl) biar tahu. Pak Gubernur kita tidak suka. Makanya Pol PP (di Solo) itu sampai diganti ibu-ibu," kata Ahok.

Menanggapi itu, Darwis mengatakan, Anggota Satpol PP kini sudah tidak memakai PDL (pakaian dinas lapangan) lagi. "Sekarang pakai PDH (pakaian dinas harian). Kalau anggota Pol PP yang PNS pakai lambang korpri, kalau kontrak tidak pakai atribut apa-apa. Selama ini pakai PDL karena siaga karena sewaktu-waktu mereka tinggal turun ke lapangan," paparnya.

5. Ancam pecat seluruh pegawai Dinas PU

Saat menggelar rapat dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta, Ahok meminta anggaran dipangkas 25 persen. Ahok bahkan mengultimatum, jika jajaran Dinas PU DKI Jakarta tidak sanggup memotong anggaran 25 persen, dia sendiri yang akan membangun proyek-proyek infrastruktur dengan dana operasional yang dimilikinya.

"Itu hitungan kami, ada dasarnya, dipotong 25 persen uang itu masih banyak ruang gerak, tidak apa-apa, jadi kalau bapak dan ibu tidak mau lakukan, dua pilihan, saya bangun kasih contoh, kita ambil 100 persen dari hitungan bapak, kita akan proses habis, kita bukan ngancam.

"Atau cara kedua, kita tunda, tapi sampai eselon III kita copot. Terbuka, kita perang terbuka kami tidak ada pilihan, yang jelas PU harus potong anggaran. Kita potong 25 persen," tegas Ahok.

Ahok menantang jajaran Dinas PU jika keberatan anggarannya dipotong untuk berdebat secara teknis dan mendatangkan para ahli. "Ketahuan mahal kita buka. Ini kita siarkan langsung lewat YouTube, saya tidak ingin semua pembicaraan saya tidak diketahui semua orang.

"Kalau Bapak ngotot tidak mau, ini anggaran semua akan saya taruh di website, biar semua orang bisa pelototin," ucap Ahok. (sumber:merdeka)

loading...
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama