loading...
» » » Modal Kecil 300 Ribu, Kini Omzet Amin Capai Rp 70 Juta

loading...

Amin Lisman Ragil (43) adalah contoh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berhasil mengembangkan usahanya dari kredit mikro yang disalurkan dunia perbankan. Perajin patung di Dusun Kretek, Desa Karangrejo, Magelang, ini memiliki omzet hingga Rp 70 juta per bulan. Padahal, ketika memperoleh pinjaman dari BRI sebesar Rp 300.000 sekitar 20 tahun lalu, dirinya tak membayangkan akan menjadi salah satu pemasok utama patung untuk para pedagang di sekitar Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan lainnya.

"Omzet saya per bulan minimal 20 juta. Tetapi saat musim liburan, sehari omzet bisa mencapai Rp 5 juta per hari, dan ini berlangsung hingga 10 hari," kata Amin ketika ditemui di Galeri Sello Gumilar miliknya di Desa Karangrejo, Selasa (23/10/2012).

Amin pun menceritakan ketika menerima pinjaman dari bank, pria dua anak ini masih menggeluti bisnis ukiran bambu bagi wisatawan yang berkunjung ke Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan sekitarnya.

Pada suatu hari, dirinya menerima pesanan relief dari batu dari seorang wisatawan. Amin pun langsung menghubungi temannya yang juga perajin pahat batu. Sesudah menjadi perantara, Amin menjadi tertarik. Lantaran hal ini, kata Amin, dirinya berniat mempelajari pembuatan patung.


"Penjualan patung, dan juga harganya, lebih bagus ketimbang ukiran bambu," katanya.

Sebagai langkah awal, Amin memilih alih profesi menjadi penjual patung. Sembari menjajakan patung, dirinya juga mempelajari teknik pembuatannya. Setelah mantap, Amin pun mulai berprofesi membuat patung.

Saat itu, Amin, yang membutuhkan modal usaha, kembali meminjam uang dari BRI Rp 10 juta. Uang ini digunakan untuk membeli bahan baku, seperti resin, serta membuat cetakan patung.

"Tanpa ada pinjaman, usaha saya tidak berkembang," katanya.

Kini, Amin tak hanya menjadi pemasok bagi para pedagang dan pemilik kios di sekitar candi. Beberapa kali, Amin juga mengirimkan patung karyanya ke Amerika Serikat, Australia, dan beberapa wilayah di Indonesia, seperti Jakarta dan Bali.

Sementara itu, mantri BRI Unit Borobudur, Sigit Tomo Saputro, ketika ditemui terpisah, mengatakan, tahun ini pihaknya telah menyalurkan kredit sekitar Rp 19 miliar-Rp 20 miliar. Kredit disalurkan kepada sekitar 1.600 perajin, petani, ataupun peternak.

Sigit mengatakan, awalnya bank pemberi kredit biasanya turun langsung ke lapangan untuk mendekati calon debitor. Diakuinya, awalnya warga yang awam dengan urusan perbankan enggan mengambil kredit dari bank.

"Kuncinya, pendekatan psikologis. Kita posisikan diri sebagai teman dulu. Misalnya, kalau bertemu seseorang yang tua, saya panggil 'mbah'," katanya.

Sigit mengatakan, pendekatan psikologis termasuk efektif. Debitor yang puas biasanya merekomendasikan kerabatnya untuk mengambil kredit juga. "Kini, ada juga calon kreditor yang datang ke bank," katanya. (sumber:kompas)

loading...
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama