loading...
» » » Film Panas Era 80 an

loading...

Perkembangan film horor di Indonesia sebenarnya mulai diperkenalkan sejak tahun 1930-an dengan judul Ouw Phe Tjoa (ular hitam dan ular putih). Film itu diimpor langsung dari Cina.

Sejak saat itu sampai tahun 1970-an perjalanan film horor Indonesia di bioskop-bioskop berjalan tersendat karena kurangnya antusias penonton. Saat itu film-film horor yang diputar selain impor juga disutradarai oleh sutradara non-pribumi.

Sampai pada tahun 1980-an, film horor di Indonesia seperti menemukan taringnya. Munculnya sosok seorang wanita bernama Suzanna Martha Frederika van Osch atau yang lebih dikenal dengan nama Suzanna membangkitkan film horor tanah air. Tatapan matanya yang tajam, suaranya yang lembut, bahasa tubuhnya yang kaku dan kerab berhiaskan kembang melati membuat ketokohannya dalam setiap lakon yang dimainkan semakin mistis.


Sudah puluhan judul film horor dia perankan pada masa keemasannya hingga dia dijuluki si ratu horor. Kala itu film dengan mitos lokal pun menjadi hiburan tersendiri bagi para warga.

Berdasarkan penelusuran dari berbagai sumber, sampai tahun 1989, setidaknya ada 10 judul film yang dibintangi Suzanna, seperti Sundel Bolong (1981), Malam Jum’at Kliwon (1986), Nenek lampir (1987), Dendam Jum’at Kliwon (1987), Ratu Buaya Putih (1988), Bangkit Dari Kubur (1988), Wewe Gombel (1988), Malam Satu Suro (1988), Musnahkan Ilmu Santet (1989), dan Wanita Harimau (1989). Meski setting dan jalan ceritanya cukup sederhana, namun rasa takut dan menyeramkan begitu mudah didapat dari film-film ini.

Sayang, konsep film horor yang demikian tidak lagi bisa didapat. Produksi film horor Indonesia saat ini disisipi dengan gaya-gaya hidup masa kini. Selain itu, para pemeran terlihat hanya berbekal ilmu akting seadanya untuk bermain dalam film horor. Mereka yang dulunya hanya seorang foto model atau bintang iklan, tiba-tiba saja didaulat menjadi pemeran dalam salah satu film horor.

Tentu dari segi kualitas akting sangat berbeda dengan Suzanna, tapi tidak bisa dipungkiri kalau peminatnya tetap banyak. Lalu apa yang menyebabkan kini dikejar penonton dari sebuah film horor Indonesia?(sumber:merdeka)

loading...
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama