loading...
» » Intel Touchscreen Ultrabook Prototype

loading...


Intel Touchscreen Ultrabook Prototype - Intel mengklaim pangsa pasarnya di Indonesia punya potensi sangat besar, termasuk untuk urusan laptop super tipis atau ultrabook. Tak heran, ultrabook yang menggunakan chip terbaru Intel pun wajib menyambangi Indonesia.

"Anak muda di sini, 55 persen dari populasi memiliki perangkat karena mereka ingin terkoneksi dengan internet. Ada potensi besar di Indonesia, tahun ini, tahun depan hingga 10 tahun ke depan. Bagi kami di industri, maupun negara ini. Kita semua tahu bagaimana ekonomi disini tumbuh berkembang dengan baik. Jadi ini kesempatan besar bagi kami," kata Uday Marty, Direktur Intel Asia Tenggara.

Deretan ultrabook dengan Intel Core generasi ketiga ini diklaim tampil lebih tipis. Tersedia sejak Juni 2012, tersedia beragam pilihan ultrabook dari sejumlah mitra Intel antara lain Acer, Asus, Axioo, Dell, HP, Lenovo, Samsung, Sony dan Toshiba.

Ultrabook sendiri adalah laptop super tipis yang ringan. Perangkat ini menyasar mereka yang sangat mobile, namun memerlukan perangkat yang ringan, dengan performa tinggi.

Chip generasi ketiga--dikenal dengan nama sandi Ivy Bridge--yang dibenamkan Intel di ultrabook, diklaim meningkatkan daya responsif perangkat serta tingkat pengamanannya.

Dalam demo yang ditampilkan Uday, ultrabook dengan chip Intel hanya memerlukan waktu beberapa detik ke mode aktif. Fitur menarik lainnya, ultrabook dengan Intel Core generaso ketiga dilengkapi Identity Protection Technology yang berfungsi mengamankan identitas pemiliknya, sehingga memperkuat pengamanan perangkat, jika sewaktu-waktu laptop dicuri.

Berbicara mengenai ultrabook, kebanyakan orang akan berpikir soal harga perangkat ini yang masih mahal. Namun Uday menyebutkan, semakin banyak volume ultrabook di pasaran, secara tidak langsung nantinya akan berdampak pada harga yang lebih bersahabat.

"Ketika produksi dalam volume yang lebih banyak, sejumlah biaya akan menurun. Misalnya komponen seperti touch panel, screen, keyboard dan lain-lain harganya akan ikut turun jika diproduksi dalam volume besar," ujarnya.

Uday lebih menekankan pada value yang disajikan melalui perangkat yang dihadirkan. Harga yang dibanderol menurutnya sesuai dengan value yang bisa didapatkan pada perangkat tersebut.

Dia percaya, akan semakin banyak orang beralih menggunakan ultrabook. Namun menurutnya, setiap orang punya kebutuhan berbeda-beda.

"Misalnya jika saya gamer, ingin notebook dengan performa tinggi. Jika sering bekerja kemana-kemana, saya ingin ultrabook. Jadi setiap orang berbeda, setiap orang punya kebutuhan berbeda. Dan kami melakukan hal, baik untuk masa depan notebook maupun ultrabook," ujarnya.

Saat ini, ada lebih dari 35 ultrabook berbasis teknologi 22 nm Intel yang sudah tersedia di pasar seluruh dunia. Ada lebih dari 110 desain yang diperkirakan akan tersedia tahun depan.

loading...
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama