loading...
» » » Hakim Ber-Gaji Lebih Rendah Daripada Gaji Guru

loading...

foto rumah kontrakan hakim doni

Hakim Ber-Gaji Lebih Rendah Daripada Gaji Guru - Kesejahteraan hakim yang memilukan hati belakangan terus terungkap. Bahkan hakim di PN Aceh Tamiang, Sunoto menyerukan mogok sidang nasional yang akan dilakukan beberapa hari lagi. Benarkah gaji hakim masih jauh dari kelayakkan?

"Saya guru SD dengan golongan IIIB. Suami saya hakim dengan golongan IVB. Gaji suami saya hanya selisih Rp 300 ribu lebih besar daripada saya. Padahal, golongan saya jauh di bawah golongan suami saya. Artinya, gaji guru lebih tinggi dibanding hakim," ujar istri hakim Abduh, Eni saat berbincang dengan detikcom, Sabtu, (7/4/2012).

Menurut Eni, besaran gaji guru yang signifikan sangat terasa belakangan terakhir pasca reformasi. Dengan tuntutan pendidikan yang berkualitas, maka guru mempunyai peran sentral meningkatkan kecerdasan anak Indonesia. "Apalagi kalau sudah mendapat sertifikasi guru, perbulan mendapat 2 bulan gaji. Sehingga guru di kabupaten di Jawa Barat, ada yang mendapatkan gaji Rp 8 juta perbulan. Kalau hakim?," ujar Eni tertawa nyinyir.

Suami Eni untuk mendapatkan gaji seperti sekarang dengan penuh ketabahan. Memulai dari gaji Rp 90 ribu pada tahun 1991 dengan penempatan di kabupaten di utara Sulawesi. Selama 14 tahun mereka berdua harus mengetatkan ikat pinggang hingga bisa dipindah ke Jawa Barat pada pada 2005 silam.

"Saya percaya, suami saya 100 persen bersih dari main perkara. Pernah ada tamu datang ke rumah, saya persilahkan dia masuk karena saya tidak tahu dia siapa ya. Tapi setelah bapak menemui dan tahu dia adalah pihak berperkara, lalu tamu tersebut disuruh pulang. Habis itu saya yang dimarahi," kenang Eni.


Lihat Juga Dosen Bahasa Indonesia Bergaji 1 Milliar Per tahun Disini

Ini Alasan Mengapa Gaji Hakim Harus Naik

Hakim daerah menyerukan mogok sidang untuk menuntut kesejahteraan hakim setelah 11 tahun tidak naik uang tunjangannya. Seruan ini pun menggaung dari Sabang hingga Merauke. Lalu, mengapa hakim harus mendapatkan kesejahteraan layak seperti pekerja profesional lain?

"Sudah kewajiban negara untuk memberikan kesejahteraan yang layak bagi hakim. Sebab pekerjaan hakim berat," kata psikolog Reza Indragiri Amriel saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (7/4/2012).

Menurut psikolog yang sedang mengambil program doktor Psikologi Yudisial ini, hakim dinilai manusia super layaknya Hercules. Hakim dianggap mengetahui semua hal, harus bisa menyelesaikan masalah, harus bisa memecahkan kasus diluar keilmuan hukum yang dia ketahui, dan harus independen.

Hakim harus bisa menyelesaikan kasus pencopetan, perampokan, perdagangan internasional, sengketa perdata ratusan miliar rupiah, korupsi hingga sengketa pajak bernilai triliunan rupiah.

"Di luar negeri disebut Hercules Model. Tidak hanya manusia setengah dewa, tetapi mungkin dia dewa itu sendiri," ujar pengajar Universitas Bina Nusantara, Jakarta, ini.

Namun konsep Hercules Model ternyata hanya utopis. Sebab faktanya hakim harus menghadapi perkara yang menggunung. Kedua, dalam memutus tersebut hakim dibatasi dengan waktu dan target perkara. Ketiga hakim mempunyai keterbatasan kognitif sehingga adakalanya melakukan jalan pintas dalam memutus karena sudah mepet waktu.

"Dan keempat, profesi hakim paling jarang menerima evaluasi dari banyak pihak. Sehingga hakim itu seperti katak dalam tempurung," papar pria yang juga ahli psikologi forensik ini.

Reza mewanti-wanti masyarakat supaya tidak berharap berlebihan jika kesejahteraan hakim telah naik. Sebab kualitas putusan hakim tidak ada korelasinya dengan tingkat kesejahteraan hakim.

"Bagi saya, hakim harus sejahtera karena dia pekerja profesional. Kalau hendak menilai putusan hakim, jangan pakai parameter kesejahteraan," ungkap Reza.sumber:detiknews

loading...
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama