Advertisement

Berita Terbaru

Video Kekerasan Antar Pelajar Putri

Selasa, 15 November 2011

 
Video kekerasan antar pelajar putri di Kota Palu, Sulawesi Tengah, beredar luas sepekan ini. Video berdurasi 09.42 menit itu memperlihatkan adegan dua orang pelajar putri tengah menampar seorang pelajar putri lainnya sambil memaki. Aksi kekerasan ini dilatarbelakangi rebutan pacar.

Video itu beredar dalam bentuk file video telepon genggam di kalangan pelajar SMP, SMA dan masyarakat luas.

Dari keterangan sejumlah saksi, aksi kekerasan ini dilakukan di dalam mobil di lokasi eks Seleksi Tilawatil Quran di Jalan Soekarno-Hatta, Kelurahan Tondo, Palu Timur, Sulawesi Tengah. Dari data video diketahui kejadian direkam pada awal September usai lebaran Idul Fitri 1423 Hijriyah lalu.

Dalam video tersebut terekam suara makian ketika salah seorang pelajar diketahui berinisial AAP alias I menampar RM yang dianggap merebut pacarnya. Ia memaki dengan kata-kata kasar dan tak patut termasuk menyebut alat vital perempuan.

"Kenapa kau selang saya!” demikian salah satu teriakan I yang terdengar dalam video itu. S�lang merupakan bahasa gaul remaja setempat yang artinya merebut milik orang lain.

Teman I, juga terekam menampar bahkan mencubit kemaluan RM. Sedang RM terlihat tak banyak bicara selain hanya bisa menangis. Video ini diketahui direkam oleh R. Dalam rekaman itu terlihat ada 7 orang pelajar.

Pelaku kekerasan terhadap RM itu diketahui adalah pelajar putri SMAN 1 Palu, Jalan Gatot Subroto, Palu Timur. I, pelaku penamparan adalah pelajar kelas 2, salah satu SMA favorit di Palu itu. Sedang G, yang membantu I, adalah pelajar SMK II Palu (eks Sekolah Menengah Ekonomi Atas), di Jalan Setia Budi, Palu Timur.

Wakil Kepala Sekolah Bagian Kesiswaan SMA Negeri I Palu, Budiono, yang ditemui Senin (14/11/2011) sekitar pukul 09.00 Wita membenarkan adanya video kekerasan yang melibatkan pelajar sekolahnya itu. Saat ini, mereka tengah memediasi kasus ini dengan mempertemukan orang tua para siswi yang terlibat dalam aksi kekerasan itu.

“Kita mencoba menyelesaikan kasus ini secepat mungkin. Kita sudah memanggil orang tua siswa terkait ini. Tapi ini semuanya tergantung orang tua korban, apakah akan melanjutkan kasus ini ke ranah hukum atau diselesaikan secara kekeluargaan,” ujar Budi.

Dari 7 orang pelajar putri, menurut Budi, 4 orang adalah pelajar putri SMA Negeri I. Sedang sisanya berasal dari sekolah lain.

Sementara Djonny, orang tua RM yang menjadi korban kekerasan itu, menegaskan akan tetap membawa kasus ini ke meja hukum. Senin (14/11/2011) pagi ini, ia sudah melaporkan kasusnya ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polres Palu.

“Saya akan tetap meneruskan kasus ini ke Polisi. Ini supaya bisa jadi pelajaran bagi yang lain. Kasus serupa yang terjadi pada anak saya tidak boleh lagi terulang pada anak-anak yang lainnya. Apa yang dialami oleh anak saya membuat dia trauma, dan saya juga prihatin pada pelakunya. Saya tidak menyangka ada anak-anak pelajar bisa bertindak seperti itu,” tegas Djonny.

BERITA TERKAIT: